• SD SANTA URSULA BANDUNG
  • Entrepreneurship Is Our Mindset
  • sd@santaursula-bdg.sch.id
  • (022) 7201774
  • Pencarian

Merdeka Belajar Menuju Pendidikan Ideal

BELUM genap dua bulan menjabat, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim sudah menggebrak dengan idenya, Merdeka Belajar. Bahkan, dia menyebut, Merdeka Belajar ini merupakan permulaan dari gagasan-gagasannya nanti yang juga akan diluncurkan untuk memerbaiki sistem pendidikan nasional yang terkesan monoton.

 

Merdeka Belajar menjadi salah satu program inisiatif Nadiem Makarim yang ingin menciptakan suasana belajar yang bahagia, baik bagi murid maupun para guru.

Merdeka Belajar ini konon dilahirkan dari banyaknya keluhan orangtua pada sistem pendidikan nasional yang berlaku selama ini. Salah satunya ialah keluhan soal banyaknya siswa yang dipatok nilai-nilai tertentu.

"Jadi ini yang menjadi sangat penting. Kita dari Kemendikbud ingin menciptakan suasana belajar di sekolah yang happy. Makanya, tag-nya Merdeka Belajar," kata Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kemendikbud, Ade Erlangga, dalam Diskusi Polemik tentang Merdeka Belajar Merdeka UN, di Jakarta.

Ade juga menjelaskan, tujuan Merdeka Belajar ialah agar para guru, siswa, serta orangtua bisa mendapat suasana yang bahagia. "Merdeka Belajar itu bahwa pendidikan harus menciptakan suasana yang membahagiakan. Bahagia buat siapa? Bahagia buat guru, bahagia buat peserta didik, bahagia buat orangtua, untuk semua umat," papar Ade.

Secara keseluruhan, Merdeka Belajar yang diluncurkan Nadiem terdiri atas empat isu penting, yakni penggantian format ujian nasional (UN), pengembalian kewenangan ujian sekolah berstandar nasional (USBN) ke sekolah, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang hanya satu lembar, dan naiknya kuota jalur prestasi pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) dari sebelumnya 15% menjadi 30%.

Ujian nasional yang selama ini menjadi pintu gerbang bagi para pelajar di Tanah Air untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi akan ditiadakan pada 2021 dan digantikan dengan asesmen kompetensi minimum dan survei karakter.

Pemberlakuan UN dianggap kurang tepat karena lebih mendorong siswa untuk menghafal bahan pelajaran, bukan memahaminya. Ujian nasional juga dianggap bisa menjadi sumber stres bagi pelajar, bahkan orangtua dan guru karena ada tuntutan pencapaian nilai yang tinggi.

Keberadaan UN yang lebih mengedepankan capaian nilai akademis dinilai bertentangan dengan prinsip pendidikan itu sendiri yang juga membutuhkan aspek psikologis dan perkembangan kepribadian siswa.

Tentang ketidakefektifan UN ini juga pernah disurvei PB Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada 2012. Hasilnya, bahwa 70% masyarakat dan guru setuju UN dihapus.

Program penggantian format UN juga mendapat lampu hijau dari Komisi X DPR RI. Namun, sebagian menyatakan khawatir para guru tidak siap dengan sistem asesmen yang baru itu.

Alasannya, beberapa sekolah mungkin belum siap diberikan kebebasan untuk membuat sistem penilaian sendiri karena minimnya fasilitas dan kualitas guru. Hal tersebut dikhawatirkan bisa memperparah ketimpangan pendidikan.

Tanggapan yang beragam muncul dari kalangan pemerhati pendidikan. Sebagian mempertanyakan standar apa yang akan diterapkan secara nasional bila ujian nasional dihapus. Sebagian lain menilai kebijakan ini membuat guru lebih leluasa dalam menilai siswa didiknya.

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Seminar Daring

Pandemi Covid-19 telah menimbulkan krisis multidimensional secara global kepada semua makhluk hidup. Apakah ini tanda-tanda "kiamat" kecil? Bisakah kita tetap optimis dan berpengharapan

15/05/2020 17:23 WIB - Administrator
Manfaat Internet dalam Dunia Pendidikan

Kemajuan teknologi di zaman sekarang ini sudah menuntut hampir semua orang untuk berhubungan dengan internet. Memang tidak bisa dipungkiri banyak sekali manfaat yang sudah diberikan ole

26/02/2020 12:31 WIB - Administrator
Pentingnya Belajar Seni

Belajar seni sama pentingnya dengan mempelajari pelajaran lain. Bahkan Lisa Phillips, seorang penulis, jurnalis, pembicara, pengusaha dan pengajar seni dan kepemimpinan dalam bukunya&nb

19/02/2020 08:49 WIB - Administrator
YUPI SELAMAT PAGI

Seperti biasanya, hari Selasa adalah hari piket tanpa mengajar satu jam pun di kelas. Terbersit kerinduan riuh rendah suasana belajar art craft di kelas Art. Kami, para guru

19/02/2020 08:48 WIB - Administrator
Sahabat Sekolah : Jembatan Komunikasi Menuju Peningkatan Mutu

Komunikasi merupakan hal penting dalam hidup bermasyarakat. Dengan adanya komunikasi, kita dapat menyampaikan pesan pada pihak lain, dan sebaliknya mampu memahami pesan yang disampaikan

19/02/2020 08:46 WIB - Administrator
PLUS MINUS GAME UNTUK ANAK

Di era kehidupan modern ini, teknologi digital layar sentuh telah menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi sebagian pengguna perangkat mobile, baik smartphone maupun 

19/02/2020 08:46 WIB - Administrator
Sr. Magdalena Lian, OSU : Penikmat Alam yang Selalu Konsisten

Sr. Magda, biasa kami panggil Beliau. Biarawati yang lahir di Jambi dan memiliki berbagai bakat seni ini merupakan putri bungsu dari 9 bersaudara, memiliki banyak kenangan indah dimasa

19/02/2020 08:45 WIB - Administrator
Mari Peduli pada Sampah

Hari Jumat, 26 Juli 2019 yang lalu, peserta didik dari TK, SD dan SMP Santa Ursula mendapatkan kesempatan untuk belajar mengenai perilaku hidup sehat dan bersih dengan membiasakan menge

19/02/2020 08:43 WIB - Administrator
Beasiswa Bagi Peserta Didik Berprestasi

SD Santa Ursula selalu memberikan penghargaan kepada peserta didik yang berprestasi dalam bidang akademik. Hal ini sebagai wujud kepedulian dan motivasi bagi seluruh peserta didik, dala

19/02/2020 08:42 WIB - Administrator
SDK Santa Ursula Juara Modern Dance Kota Bandung

SDK Santa Ursula Juara Modern Dance Kota Bandung, yang di ikuti oleh beberapa siswa kelas III 

14/09/2019 08:57 WIB - Administrator