• SD SANTA URSULA BANDUNG
  • Entrepreneurship Is Our Mindset
  • sd@santaursula-bdg.sch.id
  • (022) 7201774
  • Pencarian

Mengenal Santo Yosef : Pribadi “yang biasa”

“Apakah ada yang pernah mengalami perasaan ditikung atau di-ghosting?” “Perasaan apa yang muncul?” “Apakah merasa sakit hati, marah, kecewa, dendam, atau terluka?” “Lalu apa yang dibuat dengan semua perasaan tersebut?” “Apakah ada yang pernah mencurahkan rasa marah atau pedih tersebut di dunia maya sehingga semua orang di dunia bisa tahu perasaan kita?” “Atau dengan sengaja menuliskannya di media sosial agar semua orang tahu siapa yang “menjahati” kita?” “Atau mungkin bukan ditikung tetapi pernah memiliki masalah dengan seseorang kemudian mulai ngerumpi baik di belakang yang bersangkutan atau mem-bully lewat media sosial agar orang tersebut dipermalukan?”

Menerima Maria Sebagai Istrinya

Paus Fransiskus mencanangkan mulai tanggal 8 Desember 2020 – 8 Desember 2021 sebagai tahun St. Yosef dan St. Yosef menjadi pelindung Gereja semesta. Banyak alasan mengapa St. Yosef layak diteladani, dan salah satunya yang sangat membuat saya kagum adalah ketulusannya. Bagi saya pribadi, tugas yang harus diemban oleh St. Yosef adalah sangat berat sebab memerlukan banyak pengorbanan, baik secara fisik maupun psikis.

Pengorbanan pertama dimulai ketika ia mendapat kabar bahwa Maria tunangannya mengandung dan ia tahu bahwa itu bukan anaknya. Bisa jadi awalnya St. Yosef merasa terkejut, marah, sakit hati, tidak bisa menerima keadaan, atau ingin tahu siapa ayah dari anak tersebut. Saya merasa bahwa kenyataan ini tidak bisa diterimanya. Hal ini terbukti dengan ia bermaksud untuk menceraikan Maria. Namun hebatnya, walaupun St. Yosef di pihak yang dirugikan, ia tidak memiliki keinginan untuk membalas sakit hatinya kepada Maria. Ia malah mencari cara bagaimana agar Maria tidak mendapatkan hukuman dari kehamilannya tersebut. Karena dalam kasus Maria, ia bisa digolongkan sebagai “berzinah” dan hukumannya adalah dicambuk atau dirajam, pelaku ditanam sebatas leher lalu dilempari batu di muka umum sampai meninggal. Sedangkan St. Yosef tidak akan dipersalahkan oleh masyarakat jika ia menceraikan Maria karena ia bisa menjelaskan alasannya. Justru jika ia diam-diam menceraikan Maria maka publik bisa saja menuduh St. Yosef tidak bertanggungjawab karena telah menghamili Maria dan kemudian meninggalkannya begitu saja. Di sinilah kita bisa melihat, kebesaran hati St. Yosef yang mau berkorban demi melindungi Maria dari hukuman dirajam.

Ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam, tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu," (Mat 1:19-20). St. Yosef sungguh-sungguh mempertimbangkan keputusannya sebagai bagian dari discernment karena ia tidak langsung mengambil keputusan pada saat itu juga, ia tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh gejolak emosinya, namun mengikutsertakan Tuhan, guna mencari dan menemukan apa yang menjadi kehendak-Nya. Hal ini semakin diteguhkan dengan kejernihan hatinya sehingga ia bisa menangkap pesan Tuhan melalui Malaikat. “Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya” (Mat 1:24). Tidak seperti ketika ia menimbang-nimbang untuk menceraikan Maria, kali ini tanpa berpikir panjang, ia taat pada kehendak Tuhan yang disampaikan kepadanya dalam mimpi dan segera menikahi Maria yang sedang mengandung.

Keluar Zona Nyaman

Konsekuensi dari mengatakan “ya” pada kehendak Tuhan memerlukan tanggung jawab yang besar, ketulusan, dan keberanian. St. Yosef membuktikan bahwa ia berusaha menjadi suami dan ayah yang baik bagi keluarganya. Kali ini pun, kala nyawa bayi Yesus terancam, ia tidak berpikir panjang ketika di tengah malam, yang berarti tanpa persiapan yang cukup, langsung membawa keluarganya lari ke Mesir. Ini adalah pengorbanan besar kedua karena keputusan untuk lari ke Mesir itu membawa resiko yang besar. St. Yosef berani dan rela keluar dari zona aman. Ia harus pergi dari kampung halamannya dan meninggalkan pekerjaan serta kerabatnya. Ia harus ke negeri asing dan memulai segala sesuatu dari nol dengan adanya istri dan bayi yang menjadi tanggungjawabnya. Bisa kita bayangkan bahwa hidup di tempat asing bukanlah hal mudah apalagi bagi seorang tukang kayu yang secara ekonomi tidaklah kaya. Belum lagi harus menyesuaikan diri dengan bahasa dan adat istiadat setempat yang sangat berbeda. Bisa dibayangkan bahwa kerinduan akan kampung halamannya masih tersimpan dalam diri St. Yosef. Kabar gembira datang ketika akhirnya ia mendapat berita bahwa Herodes sudah meninggal, maka ia ingin membawa keluarganya kembali ke kampung halamannya. Namun kali ini pengorbanan lain muncul kembali karena ada resiko bahwa nyawa Yesus masih terancam, terpaksa mereka tidak bisa kembali ke kampung halamannya namun menetap di Galilea. Babak baru kembali terjadi, memulai dari nol lagi.

St. Yosef juga mengikuti tradisi Yahudi untuk mempersembahkan anak sulung kepada Allah. Artinya di depan umum, ia mengakui Yesus sebagai putra kandungnya dan rela bersama Bunda Maria melakukan perjalanan sekitar 5 hari untuk kembali ke Yerusalem demi mencari Yesus yang tetap tinggal di bait Allah bersama orang-orang Farisi dan Ahli Taurat. Ketika sudah kembali ke Nasareth, ia mengajari Yesus untuk menjadi tukang kayu sebagai persiapan untuk masa depan Yesus. Saya yakin masih banyak hal yang dilakukan oleh St. Yosef untuk menunjukkan kebesaran hatinya dalam menerima kehendak Tuhan. Ini juga menjadi alasan mengapa Paus Fransiskus ingin agar kita meneladani St. Yosef. Ia menjadi teladan bagi kita yang umumnya adalah orang biasa, jauh dari perhatian, tersembunyi. Walaupun begitu, sudah jelas bahwa St. Yosef memainkan peranan besar dalam sejarah keselamatan kita. Entah apa yang terjadi dengan Yesus maupun Bunda Maria tanpa sosok St. Yosef yang membaktikan seluruh hidupnya demi mereka dalam rangka ketaatannya kepada Tuhan.

Semoga St. Yosef menjadi teladan bagi kita untuk menjadi orang sederhana yang tulus, memiliki hati yang berjiwa besar untuk berani berkorban, menyimpan aib dan kelemahan orang lain, daripada mengumbarnya dengan menggosipkan kesana kemari, atau mengunggah ungkapan kejengkelannya terhadap orang itu agar menjadi viral di media sosial dan diketahui oleh banyak orang.


Hari Raya St. Yosef, 19 Maret 2021

Magdalena Lian, OSU

Tulisan Lainnya
Siapkan Kopermu

Nasihat dari Kata-kata Santa Angela 5: 3-7, 11-13 Ajaklah mereka agar meletakkan harapan mereka pada sukacita dan harta surgawi, agar mereka mendambakan pesta abadi di surga, yang

04/02/2021 14:00 WIB - Administrator
Covid-19 Yang Membuatku Bersyukur

(Refleksi Akhir Tahun 2020) Covid 19 merupakan hot trending sejak tahun 2020 dan berlanjut sampai saat ini. Dunia menjadi gempar, negara-negara menjadi panik, ilmu kedokteran kerja

04/02/2021 13:00 WIB - Administrator
Santa Angela Merici : Jadul atau Up To Date?

Oleh : Sr. Magdalena Lian, OSU Pada tanggal 25 November 1535, di Brecia, Italia Utara, Angela Merici membentuk sebuah kompani (persekutuan) yang beranggotakan 28 orang wanita. Kompani

28/01/2021 14:00 WIB - Administrator
Seminar Daring

Pandemi Covid-19 telah menimbulkan krisis multidimensional secara global kepada semua makhluk hidup. Apakah ini tanda-tanda "kiamat" kecil? Bisakah kita tetap optimis dan berpengharapan

15/05/2020 17:23 WIB - Administrator
Manfaat Internet dalam Dunia Pendidikan

Kemajuan teknologi di zaman sekarang ini sudah menuntut hampir semua orang untuk berhubungan dengan internet. Memang tidak bisa dipungkiri banyak sekali manfaat yang sudah diberikan ole

26/02/2020 12:31 WIB - Administrator
Merdeka Belajar Menuju Pendidikan Ideal

BELUM genap dua bulan menjabat, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim sudah menggebrak dengan idenya, Merdeka Belajar. Bahkan, dia menyebut, Merdeka Belajar ini m

26/02/2020 12:28 WIB - Administrator
Pentingnya Belajar Seni

Belajar seni sama pentingnya dengan mempelajari pelajaran lain. Bahkan Lisa Phillips, seorang penulis, jurnalis, pembicara, pengusaha dan pengajar seni dan kepemimpinan dalam bukunya&nb

19/02/2020 08:49 WIB - Administrator
YUPI SELAMAT PAGI

Seperti biasanya, hari Selasa adalah hari piket tanpa mengajar satu jam pun di kelas. Terbersit kerinduan riuh rendah suasana belajar art craft di kelas Art. Kami, para guru

19/02/2020 08:48 WIB - Administrator
Sahabat Sekolah : Jembatan Komunikasi Menuju Peningkatan Mutu

Komunikasi merupakan hal penting dalam hidup bermasyarakat. Dengan adanya komunikasi, kita dapat menyampaikan pesan pada pihak lain, dan sebaliknya mampu memahami pesan yang disampaikan

19/02/2020 08:46 WIB - Administrator
PLUS MINUS GAME UNTUK ANAK

Di era kehidupan modern ini, teknologi digital layar sentuh telah menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi sebagian pengguna perangkat mobile, baik smartphone maupun 

19/02/2020 08:46 WIB - Administrator